Sunday, August 8, 2010

....hati ini......

Bismillahhirrahmanirrahim......~

...krn diri tahu Dia tahu......

Assalammualaikum w.b.t....

dia senyum....
"..syukur Ya Rabb,kesempatan ini hadir lg...kekangan tugasan dpt diringankn..buat seketika..dgn izinMu...."

"...ujian..dugaan..seuit hati diusik..kesannya sgt besar......"

dia tunduk....
dia diam....

dia ingat pd sahabatnya...
yg makan hati dgn bicaranya....
dia ingat akn ni'ma sodiqatinya...
yg terguris hati dgn dia sebntr tadi...

bg dia,ini ujian...
bg dia,ini dugaan...
bg dia,hati dia..dn dia...shbtnya..dicuit.....

"...tidak beriman seseorang kamu itu melainkan dia mencintai sahabatnya sebagaimana dia mencintai dirinya..." (riwayat al-Hadis)

dia sakiti hati sahabatnya..
jika dia cinta..
xkn dia snggup menyakiti hatinya...
dia guris hati sahabatnya...
jika dia cinta...
xkan dia ganggup guris hatinya....
dia biar,sahabtnya trtunggu lantas menyedihkn lagi shabatnya...
jika dia cinta...
xkn dia snggup biar dia menngu..lantas penantian itu akhiran sedih...

"..mencintai sahabtnya sebagaimana dia mencintai dirinya.."

cinta dia buat sahabtnya..seperti cinta dia buat dirinya..

cintakah dia...??

cinta buat sahabatnya seperti cinta buat dirinya...

sdngkn dirinya xsnggup utk hadapi..
apa yg telh sahabat nya hadapi..
kesan perbuatan dia sebentar tadi.....
sebentar tadi...
sebentar tadi...
masa xkan berulang...xdpt dikejar kembali....

dia takut…
takut kiranya telah tiba masa untuk ukhuwah ini diuji kekuatannya....
kasihnya pada sahabatnya yang satu ini..
..baru kiranya berputik..
mengenali sahabatnya tidak sampai dua tahun..
tidak juga bersua muka hari-hari....
Hanya pertukaran khabar berita dan pendapat yang selama ini menjadi pertembungan similarities antara dia dan sahabatnya…
dia banyak sekali belajar dari sahabatnya yang satu ini…
tanpa dia sedari… hatinya yang degil itu mudah sahaja bertukar lembut tatkala diketuk perlahan oleh ukthi itu…...

ya..diketuk lembut oleh sahabat dia....

tapi dia....
dia khilaf....
dia kuarng arif dlm menjaga perasaan sahabatnya ini...
dia tidak peka...
dia tidak prihatin....

mana mungkin bergaduh...
jika jarang berjumpa....
mana mungkin bertikam lidah jika hanya berbicara melalui telefon dan sms menjadi perantara..
mana mungkin terasa hati jika bila hanya berjumpa tika gembira…
dan mana mungkin akan rasa bosan jika banyak lagi yang belum diketahui tentang diri sahabatnya itu…
lupa sebentar dia akan ujian yang dijanjikan Illahi…
dalam apa jua bentuk, ujian itu pasti akan datang… keterlanjuran gurauannya sebentar tadi seperti memberi hint padanya.. mungkin bukan hari ini..mungkin esok..mungkin lusa..harapannya cuma..tika ujian itu melanda..dia sudah kuat untuk belajar dan mengambil iktibar....
tika kisah ini berevolusi, dia sudah mengerti bahawa dia perlu “go with the flow” dan moga kasihnya pada sahabatnya itu disandarkan pada yang kekal abadi..yang Maha Mengetahui..disandarkan pada Dia yang Satu..yang telah mempertemukan dia dengan sahabat itu....

sgt bersyukur Ya Rabb....

Alhamdulillah...Alhamdulillah...Alhamdulillah.....<3... buat sahabatku, "..maafkn ana..maafkn ana...maafkn ana..." berlagu "a thousnd times by sami yusof .." dlm hati dia kini... Without your warmth, without your smile
Without you, by my side
The world was so cold, I felt so lost
Without your light, I felt so blind

A thousand miles I'd run and walk
A thousand times I'd slip and fall
But for you I'd do it again
A thousand times

Without your warmth, without your smile
Without you, by my side
The world was so cold, I felt so lost
Without your light, I felt so blind

You gave me hope, you let me dream
Made me believe I can still trust

You raised me up, you gave me wings
Just like a kite in the sky

A thousand miles I'd run and walk
A thousand times I'd slip and fall
But for you I'd do it again
A thousand times

No words are enough to convey
All the things I want to say
I won't even try Cos I know
Deep down you feel how much I care

Now I hold my head up high
I see my dreams coming true
Peace be with you my dearest friend
In my heart you will remain

A thousand miles I'd run and walk
A thousand times I'd slip and fall
But for you I'd do it again
A thousand times



dia senyum...
dia yakin..
dia cinta...pd sahabatnya ini...
kasih dia buat ni'ma sodiqahnya ini sgt dalam...
seperti kasih buat dirinya juga..
kasih buat keluarganya...

"...Allah love you,ni'ma sodiqati..so do I..bt Allah's love is much more than I could ever offer...."

"..maafkn ana....."

....warkah dia...buat ni'ma sodiqatinya.......

09082010...0120...


Assalammualaikum w.b.t......

Thursday, August 5, 2010

......Sungguh....^_~......

..kerana aku tahu Dia tahu....

bismillahirrahmanirrahim....
assalammualaikum w.b.t ..

alhamdulillah..alhamdulillah...alhamdulillah.....
syukur dia padaNya..diberi kesempatan malam nie..utk mencoretkn idea yg dtg dr Dia...

entah kenape..terdetik di hati dia..."...setelah sekian lama tangan nie xberpeluang menaip di blog nie..malm nie..hati sgt tergerak...hinggakn asignmnt terletak di ats meja..dipndng dgn senyumn..memesan pd asignmnt..'..tunggu ye..nnt sy teliti awk...'...meliht pd katil...'..pnt..tp nnt ye..sy ade coretan hati yg perlu diluahkn...'...

dia tersenyum kini...meliht screen noteboook dia...gambar mereka...
insan2 yg dikasihi ...insan2 yang diingati..seiring dgn ingtn dia trhdp Dia.....<3...

seperti tajuk coretan dia pd mlm ini...

"..Sungguh....~..."...^_~...

"....sungguh Ya Rabb,dia sgt merindui mereka selain drpd rindu buatMu..."
"....sungguh Ya Rahim,cinta dihati dia,hanya untuk mereka selain cinta hanya untukMu....."
"....sungguh Ya Rahman,sygnya dia pd mereka selain sayangnya dia terhadapMu....."
".....sungguh Ya Allah,syg,rindu dn cinta dihatiku...hanya milik mereka..selain kepadaMu rasa hati ini....."

"...sungguh....~...."

bila dia...
Terfikirkan Dia,
terasa sungguh kerdil...

"...walau selalu saja melupakan Dia..."

mereka....
bila dia melihat cebis-cebisan mereka...
dia rasa kecil...
rasa tak “geng”....
haishz..hati ini..berat utk seiring dgn mereka..kerna merasa tidak layak....

bila dia terkenang semangat mereka...
seakan dia terkebil-kebil....
bila dia melihat mereka bersama....
hati meruntun mahu turut serta...
mahupun confidence level tidak mencapai threshold....
Sedar dirinya jauh dibelakang....
terdampar di tepian..
sedangkan mereka..
jauh langkahn dihadapan...
berada ditengah lautan,sejajar geloranya laut,gelora juga pergerakn mereka merentas....

dia...
dalam kekaguman melihat mereka...
dan cambahannya p0hon mereka...
dia sedih melihat kebantutan pohonnya...
dia...
kebuntuan dalam pencarian...
apa patut dia beri pada pohon hidupnya?
Segarkah air yang disiram selama ini..?
Letak baja-kah...?
Sampai bila pohon ini mahu hidup segan mati tak mahu...?

dia...
melihat mereka...
dan dia...
kembali memandang dirinya...

dia,diri yang baru mahu mengerti ia perlu berlumba...
dia,diri yang baru terjaga dari lena....
dia,diri yang baru menyedari,langkahan kakinya kini,bukan untuk suka suka...

di mana dia?
siapa dia?
siapa dia bila bersama?
siapa dia bila bersendiri?

dia..
melihat mereka...
dia..
melihat ke arah dirinya dan mereka...
berlari, berjalan, merangkak?
dia melihat mereka jauh di depan,
jauh sangat rasanya...
tak tercapai rasanya tangan yg dihulur...
tak tersampai rasanya laungan pinta mahu ditarik bersama.
dia terkatik-katik di belakang...bertatih dengan payah...
selalu sahaja rasa mahu berhenti melangkah...
dan tetap menjadi dirinya yang sekarang....

mereka jatuh, lalu bangun dan kembali berlari....
Perlumbaan mereka yang tiada pernah berhenti....
Walau dugaan menghalangi....
dan dia....
dia jatuh, lalu merangkak, entah bila kan berlari?
perlu tongkat ke dia?
perlu tangan yang menghulur ke dia?
perlu kata-kata yang kembali memanggil?

bilakan dia akan fahami semua...?
tegakah dia...dlm menongkah deras hidup ini...?
kuatkah dia dlm mengharungi badai hidup ini...?

dia merasakan...

if life is but a game..
then i need to discover how the game is really played..
another apprendimento process.
if life is but a game..
then I guess it’ll be like a chess.

A battle. With one ultimate goal.
You either win. Or it’ll be a lost battle.
A waste of time for a loser. A joy for the winner.
There are rules to follow.
Knight of the chess. Always an L move. No other way. It’s written in the book.
As a guidance to the player.
And the rules are universal. Apply to all players.
Anywhere.
Anytime.
But the challenge is different for each and every player.
Easy.medium.hard.
Once the game has started, time passes.
And before you know it...“CHECKMATE!”
Need plans of action. Observe. Think. Plan. and Act.
Every move counts. Every action is being observed.
And every piece you have SHOULD be used to your advantage (if you want to win)
Fail to plan. You’ll lose.
Focus on the aim. It helps you strategize.
Because it takes time to win…be patient.
You might lose your grip sometimes.
Your pieces might not be where it should have been.
And thus you sometimes stuck with your plan.
But there are ways to keep you on the right track.
Just need to focus. Strive hard .And pray.


ya...
dia tahu...
dia senyum...

dia tahu...
mereka ada...

yg penting...
dia tahu..
Dia ada....

dia tahu...
"focus.strive.pray"

dia tahu...
"usaha.redha.tawakal.doa."

dia tahu...
genggaman mereka yg pernah dia rasa..
akan trus kekal dlm relung hati dia...

dia tahu...
Dia ada...

dia tahu...
Dia ada....

dia tahu...
Dia ada....

dia tahu....
Dia ada....

"...So you might see
Just what your love has meant to me
And what the cost of losing you would be
No I don’t know
Where I would go
What I would do

Without You
Without You..."

dia tahu....
dia tahu......
dan dia senyum...
syukur...
dia nk jmpe Dia...
nk ucap terima kasih...


05082010..0015...warkah dia..buat Dia..buat mereka....

assalammualaikum w.b.t....

Friday, April 30, 2010

kisah pertunangan.....

kerana saya tahu,Dia tahu...

subhanaAllah..dia bg kesemptan jg tgn nie utk menaip mlm nie...
setelah sekian lama ana xmelawat laman blog nie..
coretan pendek mlm nie..
kisah pertunangan...
artikel yg diberi..
oleh ukhti tersayang..
klaian,bacalah...=)

Hari-hari berlalu yang dilewati seakan sudah bertahun lamanya, namun yang perlu diakui ialah ianya baru beberapa minggu lalu.


Iya, hanya beberapa minggu lalu. Berita itu aku sambut dengan hati yang diusahakan untuk berlapang dada.

Benar, aku berusaha berlapang dada. Terkadang, terasa nusrah Ilahi begitu hampir saat kita benar-benar berada di tepi tebing, tunggu saat untuk menjunam jatuh ke dalam gaung. Maha Suci Allah yang mengangkat aku, meletakkan aku kembali di jalan tarbiyyah dan terus memimpin untukku melangkah dengan tabah.



Aku hanya seorang Insyirah. Tiada kelebihan yang teristimewa, tidak juga punya apa-apa yang begitu menonjol. Jalan ku juga dua kaki, lihat ku juga menggunakan mata, sama seperti manusia lain yang menumpang di bumi Allah ini.

Aku tidak buta, tidak juga tuli mahupun bisu. Aku bisa melihat dengan sepasang mata pinjaman Allah, aku bisa mendengar dengan sepasang telinga pinjaman Allah juga aku bisa bercakap dengan lidahku yang lembut tidak bertulang. Sama seperti manusia lain.

Aku bukan seperti bondanya Syeikh Qadir al-Jailani, aku juga tidak sehebat srikandi Sayyidah Khadijah dalam berbakti, aku bukan sebaik Sayyidah Fatimah yang setia menjadi pengiring ayahanda dalam setiap langkah perjuangan memartabatkan Islam.

Aku hanya seorang Insyirah yang sedang mengembara di bumi Tuhan, jalanku kelak juga sama... Negeri Barzakh, insya Allah. Destinasi aku juga sama seperti kalian, Negeri Abadi. Tiada keraguan dalam perkara ini.



Sejak dari hari istimewa tersebut, ramai sahabiah yang memuji wajahku berseri dan mereka yakin benar aku sudah dikhitbah apabila melihat kedua tangan ku memakai cincin di jari manis. Aku hanya tersenyum, tidak mengiyakan dan tidak pula menidakkan. Diam ku bukan membuka pintu-pintu soalan yang maha banyak, tetapi diam ku kerana aku belum mampu memperkenalkan insan itu. Sehingga kini, aku tetap setia dalam penantian.



Ibu bertanyakan soalan yang sewajarnya aku jawab dengan penuh tatasusila.

"Hari menikah nanti nak pakai baju warna apa?"



Aku menjawab tenang..

"Warna putih, bersih..."



"Alhamdulillah, ibu akan usahakan dalam tempoh terdekat."

"Ibu, 4 meter sudah cukup untuk sepasang jubah. Jangan berlebihan."

Ibu angguk perlahan.



Beberapa hari ini, aku menyelak satu per satu... helaian demi helaian naskhah yang begitu menyentuh nubari aku sebagai hamba Allah.

”Malam Pertama...” Sukar sekali aku ungkapkan perasaan yang bersarang, mahu saja aku menangis semahunya tetapi sudah aku ikrarkan, biarlah Allah juga yang menetapkan tarikhnya kerana aku akan sabar menanti hari bahagia tersebut. Mudah-mudahan aku terus melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi. Mudah-mudahan ya Allah.



Sejak hari pertunangan itu, aku semakin banyak mengulang al-Quran.

Aku mahu sebelum tibanya hari yang aku nantikan itu, aku sudah khatam al-Quran, setidak-tidaknya nanti hatiku akan tenang dengan kalamullah yang sudah meresap ke dalam darah yang mengalir dalam tubuh. Mudah-mudahan aku tenang... As-Syifa' aku adalah al-Quran, yang setia menemani dalam resah aku menanti. Benar, aku sedang memujuk gelora hati. Mahu pecah jantung menanti detik pernikahan tersebut, begini rasanya orang-orang yang mendahului.



"Kak Insyirah, siapa tunang akak? Mesti hebat orangnya. Kacak tak?"

Aku tersenyum, mengulum sendiri setiap rasa yang singgah. Maaf, aku masih mahu merahsiakan tentang perkara itu. Cukup mereka membuat penilaian sendiri bahawa aku sudah bertunang, kebenarannya itu antara aku dan keluarga.

"Insya Allah, 'dia' tiada rupa tetapi sangat mendekatkan akak dengan Allah. Itu yang paling utama."



Berita itu juga buat beberapa orang menjauhkan diri dariku. Kata mereka, aku senyapkan sesuatu yang perlu diraikan. Aku tersenyum lagi.



"Jangan lupa jemput ana di hari menikahnya, jangan lupa!"

Aku hanya tersenyum entah sekian kalinya. Apa yang mampu aku zahirkan ialah senyuman dan terus tersenyum. Mereka mengandai aku sedang berbahagia apabila sudah dikhitbahkan dengan 'dia' yang mendekatkan aku dengan Allah.



Sahabiah juga merasa kehilangan ku apabila setiap waktu terluang aku habiskan masa dengan as-Syifa' ku al-Quran, tidak lain kerana aku mahu kalamullah meresap dalam darahku, agar ketenangan akan menyelinap dalam setiap derap nafas ku menanti hari itu.



"Bila enti menikah?"

Aku tiada jawapan khusus.

"Insya Allah, tiba waktunya nanti enti akan tahu..."

Aku masih menyimpan tarikh keramat itu, bukan aku sengaja tetapi memang benar aku sendiri tidak tahu bila tarikhnya.



"Jemput ana tau!"

Khalilah tersenyum megah.



"Kalau enti tak datang pun ana tak berkecil hati, doakan ana banyak-banyak! "Itu saja pesanku. Aku juga tidak tahu di mana mahu melangsungkan pernikahan ku, aduh semuanya menjadi tanda tanya sendiri. Diam dan terus berdiam membuatkan ramai insan berkecil hati.


"Insya Allah, kalian PASTI akan tahu bila sampai waktunya nanti..."


Rahsia ku adalah rahsia Allah, kerana itu aku tidak mampu memberikan tarikhnya.


Cuma, hanya termampu aku menyiapkan diri sebaiknya. Untung aku dilamar dan dikhitbah dahulu tanpa menikah secara terkejut seperti orang lain. Semuanya aku sedaya upaya siapkan, baju menikahnya, dan aku katakan sekali lagi kepada ibu...

"Usah berlebihan ya..."

Ibu angguk perlahan dan terus berlalu, hilang dari pandangan mata.



"Insyirah, jom makan!"

Aku tersenyum lagi... Akhir-akhir ini aku begitu pemurah dengan senyuman.

"Tafaddal, ana puasa."

Sahabiah juga semakin galak mengusik.

"Wah, Insyirah diet ya. Maklumlah hari bahagia dah dekat... Tarikhnya tak tetap lagi ke?"

"Bukan diet, mahu mengosongkan perut. Maaf, tarikhnya belum ditetapkan lagi."


Sehingga kini, aku tidak tahu bila tarikhnya yang pasti. Maafkan aku sahabat, bersabarlah menanti hari tersebut. Aku juga menanti dengan penuh debaran, moga aku bersedia untuk hari pernikahan tersebut dan terus mengecap bahagia sepanjang alam berumahtangga kelak. Doakan aku, itu sahaja.





............ ......... ......... .........








"innalillahi wainna ilaihi rajiun..."


"Tenangnya.. . Subhanallah. Allahuakbar. "


"Ya Allah, tenangnya... "


"Moga Allah memberkatinya. ..."


Allah, itu suara sahabat-sahabat ku, teman-teman seperjuangan aku pada ibu.



Akhirnya, aku selamat dinikahkan setelah sabar dalam penantian. Sahabiah ramai yang datang di majlis walimah walaupun aku tidak menjemput sendiri.

Akhirnya, mereka ketahui sosok 'dia' yang mendekatkan aku kepada Allah.

Akhirnya, mereka kenali sosok 'dia' yang aku rahsiakan dari pengetahuan umum.

Akhirnya, mereka sama-sama mengambil 'ibrah dari sosok 'dia' yang mengkhitbah ku.



Dalam sedar tidak sedar...

Hampir setiap malam sebelum menjelang hari pernikahan ku...

Sentiasa ada suara sayu yang menangis sendu di hening malam, dalam sujud, dalam rafa'nya pada Rabbi, dalam sembahnya pada Ilahi.

Sayup-sayup hatinya merintih. Air matanya mengalir deras, hanya Tuhan yang tahu.

"Ya Allah, telah Engkau tunangkan aku tidak lain dengan 'dia' yang mendekatkan dengan Engkau. Yang menyedarkan aku untuk selalu berpuasa, yang menyedarkan aku tentang dunia sementara, yang menyedarkan aku tentang alam akhirat. Engkau satukan kami dalam majlis yang Engkau redhai, aku hamba Mu yang tak punya apa-apa selain Engkau sebagai sandaran harapan. Engkau maha mengetahui apa yang tidak aku ketahui..."





Akhirnya, Khalilah bertanya kepada ibu beberapa minggu kemudian...

"Insyirah bertunang dengan siapa, mak cik?"

Ibu tenang menjawab...

"Dengan kematian wahai anakku. Kanser tulang yang mulanya hanya pada tulang belakang sudah merebak dengan cepat pada tangan, kaki juga otaknya. Kata doktor, Insyirah hanya punya beberapa minggu sahaja sebelum kansernya membunuh."

"Allahuakbar. .."

Terduduk Khalilah mendengar, air matanya tak mampu ditahan.

"Buku yang sering dibacanya itu, malam pertama..."

Ibu angguk, tersenyum lembut...

"Ini nak, bukunya."

Senaskah buku bertukar tangan, karangan Dr 'Aidh Abdullah al-Qarni tertera tajuk 'Malam Pertama di Alam Kubur'.

"Ya Allah, patut la Insyirah selalu menangis... Khalilah tak tahu mak cik."

"Dan sejak dari hari 'khitbah' tersebut, selalu Insyirah mahu berpuasa. Katanya mahu mengosongkan perut, mudah untuk dimandikan.. ."

Khalilah masih kaku. Tiada suara yang terlontar. Matanya basah menatap kalam dari diari Insyirah yang diberikan oleh ibu.



"Satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku di risik oleh MAUT. Dan satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku sudah bertunang dengan MAUT. Dan aku akan sabar menanti tarikhnya dengan mendekatkan diri ku kepada ALLAH. Aku tahu ibu akan tenang menghadapinya, kerana ibuku bernama Ummu Sulaim, baginya anak adalah pinjaman dari ALLAH yang perlu dipulangkan apabila ALLAH meminta. Dan ibu mengambil 'ibrah bukan dari namanya (Ummu Sulaim) malah akhlaqnya sekali. Ummu Sulaim, seteguh dan setabah hati seorang ibu."





* Kisah ini bukan kisah ana , ianya kisah KITA (semua yang sedang membaca/tak) *


Mulai hari ini, jangan bersoal tika melihat ana memakai cincin. Kerana, ana sudah bertunang! Bertunang dengan kematian, tidak tahu bila ana akan dinikahkan dan tidak tahu bagaimana rezeki di malam pertama. Tetapi, sekurang-kurangnya apabila sudah dirisik dan bertunang, kita sama-sama akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya walaupun bukan yang terbaik untuk hari pernikahan dengan KEMATIAN.

Wallahua'lam.

Cukuplah kematian itu mengingatkan kita... Cukuplah kita sedar kita akan berpisah dengan segala nikmat dunia. Cukuplah kita sedar bahawa ada hari yang lebih kekal, oleh itu sentiasalah berwaspada. Bimbang menikah tergesa-gesa, tahu-tahu sudah disanding dan diarak seluruh kampung walau hanya dengan sehelai kain putih tak berharga.

Setidak-tidaknya, Insyirah (watak di atas) sudah 'membeli' baju pernikahannya. .. Arh... Untungnya Insyirah.

~ Kullu nafsin za'iqatul maut ~